Pada tanggal 10 Desember 2008, gabungan dari berbagai elemen masyarakat yang tergabung dalam Persatuan Rakyat Kalimatan Barat mulai dari kaum Tani, Rakyat Miskin Kota, Mahasiswa dan beberapa LSM berkumpul di Bundaran Digulis Pontianak Kalimantan Barat.
Elemen masyarakat tersebut memperingati Hari Hak Asasi Manusia yang jatuh pada tanggal tersebut. Aksi ini dimulai dari pengumpulan massa aksi di bundaran, kemudian massa aksi mulai melakukan Long March menuju kantor Jamsostek. Kemudian menuju kantor Gubernur Kalimantan Barat.
Dalam momentum Hari HAM Internasional, massa dari Persatuan Rakyat Kalimantan Barat menyatakan dan meneguhkan kembali hak-hak kolektif Rakyat atas upah, tanah dan pekerjaan. Demokrasi politik akan berarti jika hak-hak Rakyat atas upah, tanah dan pekerjaan dihargai dan diperjuangkan. Dasar dari demokrasi politik adalah demokrasi ekonomi. Maka:
1. Selesaikan seluruh persoalan-persoalan yang sudah jelas-jelas melanggar nilai-nilai yang terkandung di dalam hak asasi manusia.
2. Stop seluruh aktivitas yang melanggar nilai-nilai hak asasi manusia, baik yang dilakukan oleh Negara maupun Perusahaan, seperti perampasan tanah yang digunakan untuk Perkebunan, Usaha Kehutanan, Pertambangan dan Infrastruktur, PHK massal dan penggusuran.
3. Batalkan seluruh peraturan perundang-undangan yang jelas-jelas menyederai rasa keadilan yang menjadi sumber maraknya pelanggaran HAM
4. Hormati kebebasan dan hentikan diskriminasi terhadap setiap warga Negara dalam meyakini agama, aliran kepercayaan dan keyakinannya dan penderita penyakit HIV/AIDS.
5. Penuhi hak-hak demokratik Rakyat dengan memberikan lapangan pekerjaan, kesehatan yang murah dan bermutu, serta layanan pendidikan yang murah, bermutu, ilmiah dan mengabdi pada Rakyat.
6. Jalankan UU No 5 thn 1960 tentang Pokok-Pokok Agraria dan laksanakan reforma agraria sekarang juga.
7. Cabut SK. Ketua STAIN No. 55 tentang DO terhadap 2 mahasiswa dan Skorsing terhadap 2 mahasiswa.
8. Selamatkan buruh yang baru kena PHK dengan memberikan secara penuh hak atas jaminan sosial (JAMSOSTEK) sebesar Rp. 350.000,- dan menaikkan jumlah jaminan tersebut serta alternatif pekerjaan.
8 tuntutan yang diteriakkan oleh Persatuan Masyarakat Kalimantan Barat pada hari HAM Internasional yang jatuh pada tanggal 10 Desember yang lalu.
Setelah penyampaian tuntutan selesai, massa aksi membubarkan diri secara teratur.
Di Surat Kabar Daerah dan Nasional begitu banyak kejadian yang menimpa masyarakat luas. Tapi sekarang aku sudah dalam progress kembali, untuk menuliskan apa yang terjadi.
Kali ini ada beberapa perubahan dalam bentuk tampilannya. Isi blog ini merupakan kumpulan ide, opini, maupun berita-berita tentang Ekonomi dan Sosial, sehingga semua bisa berpartisipasi dalam perbedaan pendapat, ide dan kritik untuk semua hal yang terjadi di sekitar kita
Sudah 1 minggu ini hari terasa panas menyengat. Suhunya mungkin mencapai 33 atau lebih derajat celciusnya. Otakku terasa hangus dibuatnya, tapi kulihat orang-orang masih ramai berlalu lalang di jalanan. Selama 1 minggu ini aku mencari tempat berteduh dari hari yang kurasakan sangat panas ini. Namun masih juga banyak orang-orang kulihat tidak terpengaruh dengan panas yang menyengat, apakah hanya perasaanku saja dengan keadaan yang sangat menyengat ini?
Pikiranku dibuat kacau balau dengan Hari yang sangat menyengat ini. Apakah aku sudah gila? Mencoba lari dari hari yang panas menuju tempat untuk berteduh, tapi di mana tempat itu bisa kudapatkan? Pantai! Tidak mungkin sepertinya, karena uap udara di pantai pasti lebih gila lagi panasnya. Hutan! Di mana bisa kudapatkan hutan yang masih banyak memberikan oksigen yang menyegarkan otak dan pikiran. Mall! Tempat yang banyak AC nya, tapi ketika aku berlalu dari sana, panas menyengat kembali mendera pikiranku.
Hari yang panas atau aku yang gila? Sudah 1 minggu ini aku merasakan hari yang panas, atau mungkin hanya perasaanku saja. Kemana aku harus menghindar dari hari yang panas ini? Apa harus kuhadapi dengan diam saja, tanpa ada usaha untuk menghindar? Membiarkan hari yang panas ini berlalu? Semua ide di kepalaku menguap disebabkan oleh hari yang panas ini. Ide untuk bekerja, berbicara, menulis menjadi uap oleh keadaan yang panas ini. Tapi kulihat orang-orang masih dapat berlalu lalang di jalanan.
Kemana sekarang ini aku harus berbagi, sepertinya semua orang tidak merasakan hal yang sama seperti diriku. Sudah 1 minggu ini aku merasakan ketidakberesan di pikiranku karena hari yang panas ini. Aku mengalami kebuntuan untuk melakukan sesuatu. Hari yang panas atau aku yang gila?
Film yang diangkat dari karya sebuah novel dengan judul yang sama ini, memang sangat dinantikan, apalagi oleh yang telah membaca novelnya. Tapi sebenarnya apa yang membuat orang-orang sangat ingin menonton film tersebut? Baik yang tidak pernah membaca novelnya ataupun orang-orang yang telah membaca novelnya.
Jawaban-jawaban pertanyaan tersebut tidak sengaja saya dapatkan ketika, banyak orang yang mengungkapkan keinginan ketika ingin menonton film AAC dan ketika banyak orang bercerita setelah menonton film tersebut. Beberapa keinginan untuk menonton film AAC tersebut, bagi yang pernah membaca novelnya ingin mengetahui; Apakah ada perbedaan atau persamaan antara jalan cerita di novel dengan film?; Apakah place settingnya dalam cerita novel, tergambar juga di film AAC?; Apakah karakter tokohnya sama antara di novel dengan di film?; Tapi ada juga yang ikut-ikutan, mungkin karena lagi ‘in’ film ini atau memang mereka suka dengan film Indonesia yang berjenis Drama Romantis Culture Religi (ini istilah saya). Tapi ada juga yang ingin mengetahui tentang cerita poligaminya.
Namun dari keinginan-keinginan tersebut, saya angkat topi dengan film yang disutradarai oleh Hanung. B, yang diangkat dari novel karya Kang Abik. Karena bagaimanapun mengangkat dunia perfilman Indonesia.
Saya sendiri sampai saat sekarang belum menonton film AAC, kalaupun nanti saya menonton film tersebut. Saya hanya penasaran, kenapa orang-orang mempunyai keinginan yang begitu kuat untuk menonton film AAC.
Ini cerita saya selama ada di salah satu kota di pulau Sumatera Provinsi Riau di Pekan Baru. Walau tidak banyak yang saya lihat di kota itu. Maksudnya karena saya dalam rangka ikut pelatihan yang diutus dari kantor. Pelatihannya sendiri selama 3 hari dari tanggal 19 sampai 21 Februari 2008. Tempatnya di Bapelkes Pekan Baru. Kira-kira 10 km lagi ke pusat kota, jadi lumayan jauh.
Kesan pertama ketika sampai adalah Kota Pekan Baru ini bersih ya dilihat dari komplek bandara (dalam komplek AU). Pohon-pohon di tepi-tepi jalan yang tumbuh, menambah kerindangan yang ada. Persamaannya dengan Pontianak di cuacanya sama-sama panas, apalagi Riau merupakan penghasil minyak bumi. Bahasa sehari-hari yang digunakan adalah bahasa melayu Minang, hampir sama dengan bahasa melayu di Pontianak tapi mereka menggunakan huruf ‘O’, ya contohnya “na kemano?”. Dengan logat yang sedikit berbeda, tapi sebenarnya bahasa melayu asli Riau sama dengan melayu Pontianak. Gak tahu juga kenapa jadi orang Riau menggunakan bahasa sehari-harinya bahasa melayu Minang.
Namun ada yang sangat menarik bagi saya, pada saat tahu Riau penghasil minyak tapi minyak tanah juga susah didapat. Tetap aja sama dengan di Pontianak minyak tanah susah didapat. Mungkin karena emang sekali lagi bukan untuk orang miskin di negara kita. Kalau ada peribahasa ‘lain ladang lain belalang lain lubuk lain ikannya’, gak berlaku di negara kita ‘lain tempat sama permasalahannya lain kota itu-itu juga masalahnya’.
Baru kelihatan sama masalah yang lain adalah sampah, banyak juga sampah di tepi-tepi jalan walau gak terlalu kelihatan, karena Pekan Baru itu agak lebih luas dari Pontianak. Pekan Baru kalau kata penduduk sana disebut juga dengan ‘Kota Seribu Ruko’, memang kota ini banyak sekali rukonya. Sangat disayangkan juga saya gak sempat berjalan-jalan sampai ke pusat kota. Pengen tahu juga pusat kotanya seperti apa, tapi karena pelatihannya itu sampai malam, jam 6 lewat sih, tapi Maghribnya jam 6.30, abis itu agak capek juga karena seharian berada dalam ruangan yang ber-AC (maklum gak biasa kena AC-kasian ya J). Ya, jadi hanya berjalan-jalan di sekitar daerah Panam (lokasi pelatihan-seperti nama Sui. Jawi kalo di Pontianak).
O iya, pada saat saya lagi terbang (dalam pesawat), hal yang sangat menjadi perhatian saya adalah banyak hutan kita yang hampir habis, pantas saja terjadi efek rumah kaca yang cukup tinggi.
Ada jenis minuman yang saya baru ngerasa ‘teh telor’ namanya, jadi minuman ini campuran telor ama teh. Jadi cara membuatnya: “telor ayam diambil kuningnya kemudian dimasukkan kedalam gelas diberi gula sebanyak 2½ sendok makan, diaduk sampai mengembang, setelah itu tuangkan teh panas yang cukup kental, bagi yang belum terbiasa (rasa amis telor) bisa ditambahkan jeruk untuk menghilangkan rasa amisnya”. Tapi ternyata di Pontianak ada (wah ketinggalan nih gue). Di rumah makan minang biasanya ada, itu juga kata temen saya.
Banyak hal yang dapat saya ambil ketika berada di Pekan Baru, masyarakatnya ramah-ramah, at least dari yang saya kenal saat ikut pelatihan. Kemudian walau sama dengan Kalimantan Barat terutama hutannya, ya sama juga udah mulai sedikit demi sedikit habis. Namun kota ini lebih luas dan sedikit tertata dibandingin kota kita (Pontianak).
Semoga semua kota di negeri kita lebih tertata lagi, penanggulangan sampah lebih diperhatikan lagi. Banyak sebenarnya harapan saya kepada pemerintah kita, di Pusat maupun di Daerah masing-masing. Agar semua kota di negeri ini dapat menjadi pusat wisatawan.
Penumpah Tinta
- Heru S.
- Heru Suprihartanto dilahirkan di Jakarta, sekarang berada di tanah Borneo Barat. Sekarang beraktifitas di Lembaga Gemawan, sebuah lembaga yang lingkaran kerjanya tentang pemenuhan hak-hak masyarakat sehingga menjadi masyarakat akar rumput yang swadaya dan mandiri di dalam Ekonomi, Sosial, Budaya, Hukum, Politik.
